Seberapa Besarkah Biaya hidup Di Pulau Bali ?

Life Style – Sudah sejak tahun 2008 saya tinggal di Bali, bahkan saya pun menikah di pulau Bali, dan pada akhirnya saya memindahkan domisili saya ke kota Denpasar.

Bali, dengan segala kharisama nya adalah sebuah pulau yang termasuk nyaman untuk ditinggali, baik untuk bekerja ataupun menghabiskan masa pensiun.

Mengapa saya bilang nyaman? Karena menurut saya, baik dari segi biaya hidup dan kesempatan karir, Bali sangat tepat untuk itu.

Namun, sebelum kamu memutuskan untuk pindah ke Bali, ada baiknya kamu untuk mengetahui beberapah hal tentang Bali berikut ini:

Di Bali TIDAK ada angkot yang siap mengantar kamu ke berbagai tujuan seperti halnya di kota besar lainnya. Benar ada bus Trans Bali tapi jalurnya tidak banyak dan hanya melayani jalan utama dan besar saja. Jadi memiliki SEPEDA MOTOR pribadi adalah hak yang wajib.


Tidak mengecilkan skill kamu yang lain, untuk memiliki kesempatan karir yang menjanjikan, di Bali syarat utamanya adalah kamu mesti menguasai Bahasa Inggris, baik lisan dan tulisan. Tidak perlu sampai fasih, yang penting cukup bisa berkomunikasi sambil terus belajar.


Bagaimana dengan ijasah? Setelah beberapa tahun hidup di Bali, saya melihat bahwa kesempatan untuk bekerja walaupun dengan ijasah SLTA atau sederajat masih cukup besar. Asal kamu punya skill lain selain bahasa inggris tadi. Saya punya perusahaan kecil yang rata-rata karyawan yang saya rekrut adalah lulusan SLTA, dan sampai saat ini mereka tidak mengecewakan saya.


Biaya hidup akan saya bahas di sini. Untuk akomodasi, bagi yang baru pindah, kamu bisa memilih di kost dengan harga mulai 400 ribu perbulan sampai dengan 3 jutaan per bulan. Tapi, untuk di kisaran harga 400 ribu- 600 ribuan biasanya tidak ada fasilitas apa-apa, jadi kamu harus punya atau membeli keperluan dasar seperti; Kasur, bantal, lemari, dll.


Bagaimana dengan biaya makan minum? Kebanyakan orang akan bilang bahwa biaya hidup di Bali adalah mahal. Itu tidak benar menurut saya, karena di Bali banyak pilihan model makanan mulai dari harga 4000 rupiah untuk “nasi jinggo / nasi kucing) yang sudah cukup membuat kamu merasa kenyang. Warung-warung nasi campur pun bisa temukan dimana-mana dengan mudah dan dengan harga berkisar 10 ribuan. Cukup murah bukan?


Untuk kamu yang beragama muslim, makanan halal dapat dengan sangat mudah kamu temukan di mana-mana, jadi jangan takut untuk ini.
Kota atau daerah yang cocok untuk bekerja khususnya pekerjaan di bidang pariwisata adalah Denpasar, Ubud, Canggu, Seminyak, Kuta, Jimbaran, Uluwatu, Sanur dan Nusa Dua.


Jadi kalau kamu tanya, berapa biaya hidup di Bali?

Secara umum saya akan bilang Biaya Hidup di Bali Terjangkau. Asal kita pintar memilih gaya hidup saja.

Tapi seperti kota-kota besar lainnya, jika kita tidak dapat menjaga diri, maka kita akan mudah terjerumus ke hal-hal negatif. Karena kehidupan malam di Bali memang cukup “menggoda”. But it will be your choice.

Bos Google Tunjukkan Kemungkinan Rilis Mesin Pencari di Tiongkok

CEO Google, Sundar Pichai, mengatakan saat ini perusahaan tidak ada rencana untuk merilis mesin pencari di Tiongkok. Kendati demikian, ia tidak menutup kemungkinan mesin pencari buatan Google akan kembali menyambangi negara tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Pichai kepada komite kehakiman DPR atau House of Representatives Amerika Serikat (AS).

“Saat ini kami tidak berencana merilis mesin pencari di Tiongkok,” kata Pichai, serupa dengan pernyataan perusahaan sejak proyek “Dragonfly” mengemuka pada Agustus lalu.

Dragonfly dilaporkan merupakan nama mesin pencari Google yang dibuat untuk Tiongkok. Menurut laporan, mesin pencari khusus ini akan menyensor berbagai konten seperti hak asasi manusia, demokrasi, agama, dan demonstrasi.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (13/12/2018), Pichai disebut mencirikan Tiongkok sebagai “upaya internal”. Ia juga mengatakan, pihaknya akan transparan dan berkonsultasi dengan pembuat kebijakan sebelum meluncur di Tiongkok.

Kendati rencananya itu mendapat tekanan dari berbagai pihak, Google sejauh ini tampak terus mencari cara agar bisa kembali merilis mesin pencari di Tiongkok. Mesin pencari Google hengkang dari Tiongkok sejak 2010.

“Kami pikir ini adalah tugas kami untuk mengeksplorasi kemungkinan memberi pengguna akses ke informasi. Kami mengeksplorasi seperti apa mesin pencari jika dirilis di negara seperti Tiongkok,” tutur Pichai.

Pichai enggan merinci proyek itu. Namun ia mengatakan “pada satu titik”, perusahaan memiliki lebih dari 100 orang mengerjakan proyek tersebut.

Adapun pernyataan Pichai ini disampaikan dalam sidang bersama DPR AS pada Selasa (11/12/2018). Topik utama pertemuan ini adalah pembahasan tentang data dan keamanan.

Pichai sebelumnya sempat buka suara soal mesin pencari khusus Tiongkok. Ia membenarkan Google sedang menyiapkan mesin pencari tersebut, tapi masih dalam tahap awal pengembangan, sehingga belum dapat dipastikan akan bisa dirilis atau tidak.

Pichai menyampaikan hal tersebut dalam sebuah konferensi di San Francisco, AS. Menurut dia, Google memang berencana menghadirkan mesin pencari itu, tapi masih dalam tahap eksplorasi.

“Kami ingin mempelajari bagaimana jika Google ada di Tiongkok, jadi itulah yang kami buat di internal. Ini masih sangat awal, kami tidak tahu apakah akan atau bisa melakukannya di Tiongkok, tapi kami merasa ini penting untuk dijajaki,” ungkap Pichai.

Rencana ini, katanya, dirasa penting dilakukan mengingat pentingnya pasar Tiongkok dan jumlah konsumen yang banyak di negara tersebut.

Berdasarkan pengujian internal, Pichai mengatakan Google mampu melayani lebih dari 99 persen pertanyaan yang diajukan di mesin pencari tersebut.

Tiongkok merupakan salah satu pasar terbesar di dunia, mengingat besarnya jumlah penduduk. Namun, bisnis Google belum begitu optimal karena absennya layanan Search di negara tersebut.

Google menarik layanan mesin pencarinya delapan tahun lalu sebagai bentuk protes terhadap regulasi sensor, dan dugaan peretasan yang dilakukan pemerintah setempat.

Mahasiswa Irak Raih Gelar Doktor di UII

Mahasiswa S3 asal Irak, Gailan Hoshi Ali berhasil meraih gelar doctor dari Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi doctor pertama yang diluluskan Program Pascasarjana FIAI UII. Pria kelahiran Bagdad 24 November 1954 ini berhasil mempertahankan desertasi berjudul ‘Fleksibilitas pada Fiqh Imam Abu Hanifah’ di depan tim penguji yang diketuai Prof H Edy Suandi Hamid. Sedang promotornya, Prof H M Nur Kholis Setiawan dan Prof H Amir Mu’allim.

Dijelaskan Gailan Hoshi Ali, saat ini umat Islam menghadapi berbagai perubahan peradaban yang memunculkan berbagai persoalan. Di satu sisi, umat Islam ingin menegakan prinsip identitas keislaman sesuai dengan syariah Illahi.

Di sisi lain, umat Islam harus bisa mengikuti perubahan peradaban yang kemungkinan besar menyimpang dari syariat Islam. Agar kedua persoalan ini bisa sinergi umat Islam diwajibkan untuk mencari sebuah metode hidup yang sesuai dengan zamannya.

Dosen tamu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memandang fikih Imam Abu Hanifah mempunyai aspek fleksibilitas terhadap kondisi umat saat ini. Fleksibilitas ini bisa menghindarkan perbenturan antar peradaban serta eksploitasi agama Islam oleh kekuatan-kekuatan global.

“Meski fleksibel, namun tetap bisa meneguhkan kembali prinsip-prinsip keislaman sejati dalam dunia Islam, baik secara pemikiran maupun tingkah laku,” kata Gailan yang tinggal di Sydney Australia.

Berdasarkan hasil penelitiannya, fikih Abu Hanifah menjaga teks Alquran dan As Sunnah. Artinya, berhenti berandai-andai apabila terdapat teks suci yang secara sanad, signifikan sah dan menyakinkan.

Selain itu, fikih Abu Hanifah memiliki ciri aktif melakukan ‘qias’ dengan pertimbangan maslahat atau dikenal dengan perhatian akan roh syariah. Fikih ini juga mempunyai wawasan pemikiran luas dan mengacu pada masa depan.

Fikih ini telah diterapkan pada bidang jurisprudensial, pendirian akidah dan politik, hak asasi manusia, dan hak perempuan. “Penyebab munculnya fikih Abu Hanifah, di antaranya, lingkungan politik yang pluralis, lingkungan budaya dan etnis yang plural, pembentukan kesadaran fikih dan budaya Imam Abu Hanifah yang luas dan mendalam, independensi financial Imam Abu Hanifah, dan debat-debat berbuah yang muncul dalam berbagai mazhab Islami di bawah pengaruh fikih Imam Abu Hanifah,” papar bapak empat anak ini.

Saat ini, kata Gailan, fleksibilitas fikih sudah berkembang cukup memadahi di Indonesia. Hanya saja, perkembangannya masih terhalang oleh sistem pendidikan yang masih memisahkan antara spesialisasi ilmu agama dan spesialisasi ilmu-ilmu kehidupan yang lain. “Adanya pembaruan fikih Islami ini dapat menempatkan ulang umat Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin,” ujarnya menandaskan.